INDOSIAR

Kunjungan media massa elektronik dengan mengunjungi gedung indosiar dan mengunjungi beberapa acara seperti Histeria, Kiss, Kultum, Buaya Show dan liga Serie A juga diajarkan menjadi seorang Jurnalist yang handal

METRO TV

kunjungan media ke gedung METRO TV dan diajarkan menjadi JURNALIST yang profesional

BERFOTO DENGAN UYA KUYA

Disaat sedang berkunjung ke acara Buaya Show kita sempatkan untuk berfoto dengan artis ternama yaitu UYA KUYA

OLEH OLEH

Penyerahan hadiah oleh pihak INDOSIAR kepada ka Dian, selaku pembina PESAT JURNALISTIK

ACARA PEMBUKAAN

Saat menunggu dari pihak INDOSIAR kita sempatkan untuk berfoto dan makan makan

BERTEMU ARTIS

Siapa sangka di sela sela kesibukan di gedung indosiar kita bertemu dengan artis The Changcuters

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2011

Kekasih Pelangi

ceriakan hariku
menemani bumi keterasingn
singga sana ratu pelangi

jatuhkan sinarmu
hingga menembus bening hati

biarkan kabut memeluk
biarkan dingin menyelimuti

genggam erat tangan
bawa terbang menembus batas khayalan

aku dan kau
pusaran lena remaja cinta
aku dan kau
roman pujangga
aku dan kau
penguasa nirwan

kekasih,….
lupakan sejenak
masa lalu
lupakan sejenak
masa datang

hari ini
lepaskan kerudung dunia
biarkan kita melukis pelangi
sampai fajar


Rony Anugrah

X unggulan 5

Minggu, 24 April 2011

Sebuah impian

Indahnya hidup tak dapat ku rasa lagi…..

Indahnya bunga tak dapat kulihat lagi…

Semua bagaikan hampa tak berarti hidup ini bagaikan sebuah daun yang kering yang tak berarti, yang hanya bisa dibakar dan diinjak orang

Hidup ini kini terasa hampa dan tak berarti, nikmatnya tak dapat kurasakan lagi dan tak dapat ku nikmati

Setiap orang pasti punya impian…setiap orang pasti punya keinginan tapi keinginanku hanya satu

Aku ingin kehidupanku kembali seperti dulu kehidupan yang selalu memberiku semangat dan keceriaan

Aku ingin merasakan kehidupan itu….aku rindu dengan kehidupanku yang dulu Kehidupan yang orang lain belum tentu merasakannya

Kehidupan yang mengajariku rasa persahabatan, sportifitas dan dan cinta tanah air

Kehidupan yang sangat aku senangi

Tapi takdir berkata lain, aku tak dapat merasakan lagi kehidupan yang aku sukai karena aku harus menjalani yang orang-orang biasa jalani Aku harus pergi meninggalkan kehidupan yang amat menyenangkan itu…dan aku sangat sedih meninggalkannya

Karena kehidupan itu adalah jalan menuju cita-citaku

Tapi kini semua itu hanya mimpi dan khayalku

Kehidupan itu tak mungkin kembali…




Rizqy Nur Amalia (Xu5)

Jumat, 18 Maret 2011

kepergianmu

Kepergianmu

Air matamu mengiris hatiku halus
kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat
terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu
nafasmu yang mengalir dalam nafasku

Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam
terasa getaran menyatu diujung jari-jari
tak kuasa menahan gejolak kasih
limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi

Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu
telah terpatri janji pada kedalaman nurani
akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita
meski kekuatan malam hendak meragas


oleh:elsa kartika sari sunarya (sepuluh unggulan empat)

Jumat, 29 Oktober 2010

Arti Dari Seorang Teman

(By: Fina Destriana)
Disaat Ku terjatuh,
Aku Pasti 'kan rapuh,
Tapi teman ku selalu bilang,
"Kau harus Teguh"...

Disaat Ku hadapi kegagalan,
Dan berkata 'tak ada kesempatan,
Tapi teman ku selalu bilang,
"Lanjutkan perjuangan mu teman"...

Disaat Ku menjadi egois dan menyakitkan...
Tapi teman ku hanya memaafkan...
Dan Disaat Ku tersesat tanpa tau arah tujuan,
Lalu teman ku berkata,
"Pegang tangan ku kawan"...

Ketika ku menangis sendiri tanpa ada yang peduli,
Lalu teman ku berkata,
"Hai kawan, pundakku ini kan menemani"...

Dan ketika aku mati nanti,
Teman ku hanya bisa berkata,
"Sampai jumpa kawan, kau 'kan selalu dihati"....

Sabtu, 23 Oktober 2010

Rasa dan Kata

(Fina Destriana, XI-IPA Ung.1)
Kata adalah ungkapan rasa...
Sebuah rasa untuk sebuah Kata...
Berkata harus dengan rasa...
Dan perasaan harus dengan ungkapan kata...
Sebuah Rasa pasti bermakna Kata...
Dan sebuah Kata dapat dimaknai dengan Rasa...
Dengan Kata disertai Rasa Hidup terasa bermakna...

puisi gila II

Pertama aku mengenalmu, aku terkesima dengan semua tingkah mu. Hati ku terasa berbunga-bunga. Embrio-embrio pada Jaringan meristem terasa tumbuh di hatiku.
Berhari-hari ku jalani semuanya terasa cepat seperti kilatan cahaya.
Satu hari kau menyadarkan ku betapa indah nya kilauan itu. Butiran cahaya yang menembus awan cerah. Hingga kini aku mengingat itu.
Semua berjalan seimbang, seperti seorang penulis yang sedang menyelesaikan bukunya, seperti seorang koki yang sedang menghias kue tart, seperti designer yang sedang merancang gaun, seperti programmer yang sedang bermain di dunia maya. Semua berjalan sewajarnya sesuai arah angin. Tapi ketika ada seseorang yang menarik hati mu, kau berpaling. Semuanya hancur. Hatiku longsor seperti tebing yang dihantam hujan badai, seperti penulis yang kehabisan kata-kata, seperti tikus yang lompat keatas kue tart, seperti designer yang mematahkan pensilnya, seperti programmer yang terputus Wifi nya. Badai angin muson datang.
Semua yang telah terjadi sudah kau lupakan.

Annisa Sayyidatul Ulfa (XI IPA 1)

Jumat, 27 Agustus 2010

Merah Mu Putih Ku

Merah Mu adalah Keberanian Ku

Putih Ku adalah Kesucian Mu

Berani Mu adalah awal Hidup Ku

Suci Ku adalah awal cinta Mu

Merah Putih adalah dirimu dan Aku

Berkibar Mu adalah Kebebasan Ku

Cita-cita Ku adalah Harapan Mu

Kepribadian Mu adalah Jati Diriku

Perjuangan Ku adalah masa depan Mu

Merah Putih adalah dirimu dan Aku

Keluh kesah Ku adalah sedih Mu

Rasa sakit Mu adalah Derita Ku

Bahagia Ku adalah semangat Mu

Do’a Mu adalah secercah angan Ku

Berhasil Ku adalah sukses Mu

Merah Putih adalah dirimu dan Aku

Sejarah Mu adalah Negeri Ku

Rakyat Ku adalah nafas Mu

Merdeka Mu adalah Ingatan ku

Berkibarlah terus Bendera Ku

Kobarkan semangat Negara dan Bangsa Ku

(Fina Destriana.07 Agustus 2010.19:46 WIB)

Sabtu, 21 Agustus 2010

Jelajah Waktu

Ku jelajahi waktu , ketempuh waktu
kunikmati waktu

ketika gelisah menderakau
membuatku tak berdaya
membuatku menjadi tak mampu
ku tanya satu padamu
kau jawab seribu padaku
ku lihat matamu yang bebinar
kau lihat aku dengan senyuman
oh..
inikah yang ku tunggu
inikah cerita hidup yang ku jalani
yang harus kutempuh

oleh Awaliyah oktaviani

Puisi kita

Tak ku sesali semua yang telah terjadi
Tak ku pungkiri rasa ini memang asli
Aku memang tak secantik bidadari surga
Dan sesempurna hati meluluhkan jiwa
Mungkin dahulu kau ku kagumi
Tapi kini hatiku tlah kau sakiti
Aku tak ingin bersembunyi muka
Berpaling dari mu dengan wajah kecewa
Aku tetap terima suaramu
Aku buka hati ku untuk kritik mu
Tapi kini arang sudah menjadi abu
Aku akan selalu menunggu
Hingga kau sadar betul semua
Kekhilafan mu yang membuat ku kecewa..

Annisa S.U (XI IPA 1)

Jumat, 13 Agustus 2010

SELAMA MATA MEMANDANG

hidup tak pernah mudah di lalui
setiap pajakannya mempunyai arti tersendiri
senyum akan selalu menjadi hiasan dalam butiran kesabaran
cinta yang merekah dalam hati kan menguat seiring mata ini memandang dengan pasti

kepastian dalam memandang memmbuat tujuan satu berliku
selama pandangan ini memacu dalam jiwa
kan selalu bertanya "adaa apa ini?"
otak yang bersitenggang gengan urat-urat saraf
terkulai lemas menyisakan arti

mataku kan selalu memandang....
memandang....
dan terus memandang
tanpa kenal henti dan waktu yang begitu berarti

memandang lah jangan berhenti
walau ego ini menyelimuti
kita pasti punya semangat yang tinggi

(lissa amalia XI ipa 1)

AKU INGIN

hidup liku terombang ambing
derai pelu membawa nestapa
isak tangis yang selalu membuncah
menjadi hiasan ibadah semata

hinaku berada di tepi jurang
merangkak sombong membelai derai

kadang ku tak mengerti
apakah ini?
jalan ataukah titian
ku hanya bisa menatap dalam kehampaan
tentang apa yang telah meradang

nothing bukanlah jawaban
atas apa yang telah terpendam
tapi ku harus melawan bujuk rayyu setan

(lissa amalia XI ipa1)

Jumat, 06 Maret 2009

Puisi

Kenapa semua terjadi disaat aku mulai bahagia
Disaat aku mulai melupakan semua masalah-masalahku
Disaat aku mulai tersenyum
Disaat aku mulai bercahaya

Hancur ……
Hanya 6 huruf yang merangkainya
Tapi, dapat memusnahkan semuanya
Aku …..
Seorang gadis yang terabaikan
Yang mengharap kebaikan dari seseorang

Kini aku kembali seperti dulu lagi
Seorang gadis yang mengharapkan
kasih sayang.

Pratiwi Putri
XI IPA 1

Selasa, 20 Januari 2009

bu, suara mu adalah cinta

Hanya ingin..kunyanyikan
senandung dari hatiku untuk Mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku, untuk Mama

Lagu anak-anak, kenny

Kemarin, bertemu ibu lagi. Duh senangnya bisa memandang wajah syahdu itu. Alangkah bahagia tak terkira menuntaskan kerinduan menikmati binar matanya. Ia merengkuh saya, hangat dan erat. Salam yang saya sampaikan ketika membuka pintu, tak berjawab. Ibu hanya mengangguk dengan senyuman mengembang karena senang.

“Ibu, apa kabar???” kalimat pertama yang selalu saya singgahkan kepadanya setiap kali pulang. Ibu tak juga bersuara, ia malah sibuk meneliti tas saya, adakah bacaan yang saya bawa untuknya. Majalah tarbawi baru, segera saja beralih ke tangannya. Sejenak ia ke mushola, mengambil kacamata dari atas Al-qur’an yang tengah terbuka. Ia kembali ke samping saya dan kemudian tenggelam dalam samudera aksara. Setengah termenung, saya memandangnya. Dih Ibu, emang enak dicuekin.

Saya faham, mengapa Ibu menjadi pendiam dan tak banyak bersuara. Rupanya batuk yang diderita selama beberapa hari ini, merampas suaranya untuk bertutur. Saya sampai tak tega mendengar parau tak terdengarnya ketika ia meminta saya menjadi imam shalat maghrib dan isya. Seraknya yang parah terdengar seperti desis aneh, mungkin Ibu juga tak suka mendengarnya. Makanya ia memilih memberi kode menangkupkan kedua tangan dan menempelkannya di pipi kiri sebagai isyarat hendak menjumpai peraduan.

Akhirnya dua hari bersamanya, saya tak dapat mengobrol dengannya, kecuali satu arah. Ibu sungguh-sungguh diam.

Selalu ada yang berubah ketika pulang dan menjumpainya. Ibu tak sebugar dulu, tentu saja karena ia dilahap renta usia. Tangannya sekarang gemetar untuk saat-saat tertentu. Tubuhnya kian kerontang karena nafsu makan yang seringkali menurun. Lingkaran-lingkaran putih itu terlihat jelas di manik kedua matanya yang katanya sulit terpejam ketika malam menjelang. Belum lagi kerut merut yang mengukir wajah ayunya. Jika berjalan, langkahnya tak seperkasa dulu, hingga saya harus berlari-lari mensejajarinya. Dan sekarang, saya mendapatinya tanpa suara. Rabbi.. Engkau sebaik-baik pemberi kesehatan.

Suara Ibu bagus. Ia bercerita, ketika saya sudah mampu berbicara, ia paling suka mengajari saya menyanyi. Ia mengajak saya bergembira dengan menyanyi. Ia menyemangati saya juga lewat alunan suara merdunya. Waktu duduk di bangku SD kelas satu, saya terkena liver hingga sebulan tidak masuk kelas, rapor saya jeblok. Di teras depan rumah, ketika melihat saya bersedih, suaranya begitu dekat di telinga. Ia merengkuh saya dan bernyanyi:

Jangan putus asa
Itulah semboyan kita
Maju terus maju
Jangan goncang atau bimbang
Kukuhkan hatimu, capailah niatmu
Kerahkan semua tenaga
Jangan goncang atau bimbang

Saya tidak akan pernah lupa senandung-senandung itu, berharap bisa meneruskannya untuk anak-anak saya kelak. Ada lagu yang paling saya suka :

Jika aku sudah besar nanti
Ku pergi dengan ibu
Ibu boleh pilih sendiri, kemana yang dituju
Jika Ibu pilih Jogya, Bandung dan Semarang
Aku yang beli karcisnya
Karcis kapal terbang

Tak sengaja pada waktu berkumpul setelah lebaran idul fitri kemarin, saya mengajak teteh-teteh dan Ibu ‘konser’ bersama. Hampir bersepuluh kami menyanyi, mendendangkan sebuah lagu yang menjadi favorit kami sewaktu masih kecil dulu. Denting dawai gitar yang saya petik menambah kesan ‘indah’ itu :

Di matamu mama ada bintang
Gemerlapan bila ku pandang
Di matamu mama ada kasih sayang
Yang selalu bersinar tak pernah pudar
Di matamu mama ada kasih sayang
Yang selalu bersinar terang

Entah mengapa, Ibu tak ikut menyanyi. Ia malah sibuk memperhatikan kami satu persatu dan berkata hampir tak terdengar “Ehm, jangan bikin Ibu sedih atuh”.
Ah Ibu, rindu kudengar senandung cinta itu lagi. Suaramu adalah cinta, karena setiap tuturmu selalu saja bermakna. Seingat saya, ia tidak pernah marah dengan kata-kata yang kasar terhadap anak-anaknya, sejengkel apapun perasaanya. Suaranya paling terdengar tajam. Suatu saat Ibu memperingatkan kakak saya yang telah memarahi anaknya tanpa ampun. “Geulis, kata-kata seorang ibu adalah bertuah, berhati-hatilah. Ucapan seorang ibu adalah doa, jadi ucapkanlah yang baik-baik”.

Ah, Ibu, sungguh tidak nyaman ketika suaramu tak terdengar memenuhi udara, meski sosokmu begitu dekat. Bu, saya tak bisa menikmati dengan sempurna keindahan kebersamaan kemarin, meski tak berkurang eratnya rengkuhanmu, meski engkau masih melabuhkan tanganmu untuk membangunkan diri yang ditelan lelap. Sungguh, saya merasa sendiri kemarin meski kehadiranmu nyata, karena mungkin sapamu terbatas, kata-kata bijak itu tak lagi ada dan kau tak lagi bercerita tentang apapun.

Ah, bu, setelah sembuh, saya pasti mendengar lagi suara itu, sapamu, tuturmu, kata-kata bijakmu bahkan mungkin senandung cinta ketika kita ‘konser’ bersama.

Ah, bu segalanya tentangmu adalah cinta, meski itu hanya suara.

Dan saya tak bisa membayangkan, jika suara mu menghilang untuk seterusnya, karena sebuah takdir yang pasti kedatangannya.

Allahu Rabbii, anugerahkan untuk ummi kesehatan yang barakah.


sumber : eramuslim.com


(hesti)