INDOSIAR

Kunjungan media massa elektronik dengan mengunjungi gedung indosiar dan mengunjungi beberapa acara seperti Histeria, Kiss, Kultum, Buaya Show dan liga Serie A juga diajarkan menjadi seorang Jurnalist yang handal

METRO TV

kunjungan media ke gedung METRO TV dan diajarkan menjadi JURNALIST yang profesional

BERFOTO DENGAN UYA KUYA

Disaat sedang berkunjung ke acara Buaya Show kita sempatkan untuk berfoto dengan artis ternama yaitu UYA KUYA

OLEH OLEH

Penyerahan hadiah oleh pihak INDOSIAR kepada ka Dian, selaku pembina PESAT JURNALISTIK

ACARA PEMBUKAAN

Saat menunggu dari pihak INDOSIAR kita sempatkan untuk berfoto dan makan makan

BERTEMU ARTIS

Siapa sangka di sela sela kesibukan di gedung indosiar kita bertemu dengan artis The Changcuters

Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Sudahkah kita melindungi Bumi?

Kemajuan teknologi telah membuat peradaban besar. Semua alat elektronik yang praktis juga sudah mudah untuk didapat. Dan berbagai kebutuhan hidup tentunya membutuhkan alat-alat elektronik demi kesejahteraan hidup. Dipagi hari orang-orang sering melakukan aktivitasnya yang tak jauh-jauh dari barang elektronik, tidak ketinggalan juga pada malam hari, masyarakat juga memakai peralatan elektronik. Semua barang elektronik yang digunakan masyarakat tentunya juga berkaitan dengan peralatan listrik. Jutaan tegangan listrik yang selalu menghantarkan listrik ke rumah-rumah masyarakat demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Tentunya pemakain listrik ini juga tidak hanya dipakai sebagian daerah saja, tapi hampir di seluruh dunia masyarakat menggunakan listrik untuk kepentingan individu dan kelompoknya.Ketergantungan manusia kepada listrik dari masa ke masa semakin meningkat. Sementara, pembangkit listrik yang mayoritas dibangun di semua negara berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) yang menghasilkan gas rumah kaca dan telah terbukti berakibat langsung terhadap kenaikan dramatis temperatur rata-rata Bumi. Hal itu menyebabkan naiknya permukaan air laut, perubahan iklim, dan potensi kepunahan yang besar terhadap keanekaragaman hayati. Dampak pemanasan global ini sudah dipastikan akan mempengaruhi lingkungan hidup yang menjadi tempat hidup kita. Dengan pemakaian peralatan listrik setiap harinya, akan membuang jutaan volt listrik dan imbasnya akan berdampak pada bumi. Bumi yang sudah tua ini mungkin tidak akan kuat lagi menahan banyaknya umat manusia, ditambah lagi dengan efek-efek tektonisme dalam bumi, dan juga kegiatan-kegiatan manusia yang sudah banyak memberikan imbas kepada bumi. Pemakaian listrik yang terlalu berlebihan juga akan membuat energi yang ada pada listrik akan berusaha lebih keras dan akibatnya bumi bisa-bisa hancur oleh kegiatan manusia, seperti pemakaian AC yang terlalu lama, pembakaran hutan dan sampah yang asapnya sampai melangit. Hal seperti ini harus dihindari. Pola hidup kita harus segera kita rubah apabila kita tidak ingin bumi kita hancur. Setidaknya, demi mengurangi dampak pemanasan global yang semakin parah, kita harus bisa menghemat energi. Gerakan "One Hour" adalah sebuah gerakan dimana semua masyarakat dunia diminta untuk memadamkan listriknya selama satu jam demi menghemat energi, dan juga mengurangi dampak pemanasan global.Konsumsi energi listrik di Indonesia terfokus di pulau Jawa-Bali atau sebesar 78% dari total keseluruhan konsumsi listrik nasional, karena 68% konsumennya berada di pulau Jawa-Bali. Berdasarkan data konsumsi listrik tahun 2008, total 29.605 GWH atau 23% total konsumsi listrik Indonesia, terfokus di DKI Jakarta dan Tangerang. Karena itu, tak salah jika dikatakan bahwa mematikan listrik selama satu jam pada Earth Hour memiliki dampak yang signifikan terhadap penghematan energi listrik di Indonesia, khususnya kota metropolitan. Selama satu jam, Jakarta telah menghemat listrik sebesar lebih dari 170MW.


oleh: Hobir Nur Ikhsan (X.U5)
sumber: berbagai sumber

Sabtu, 02 April 2011

Komunitas Sepeda BMX

sepeda BMX

OTOMOTIFNET – Sepeda adalah salah satu kendaraan yang mengawali perjalanan sebuah sepeda motor. Seiring perjalanannya, fungsi sepeda sebagai alat transportasi kian menurun. Kecanggihan teknologi kendaraan bermotor membuat manusia menjatuhkan pilihan kepadanya. Namun saat ini komunitas sepeda kembali tumbuh dan berkembang sebagai komunitas alternatif pengusung anti polusi, dan salah satunya adalah komunitas pecinta sepeda BMX.

Dan di Jakarta Motorcycle Show 2008 (JMS), komunitas pengguna sepeda BMX kembali unjuk gigi dengan melakukan atraksi-atraksi ekstrim di areal yang disediakan. Ini merupakan salah satu wujud kepedulian Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), dalam komitmennya menjaga para pengendara anti polusi udara.

“Kami senang mendapatkan tempat di event pameran berkualitas seperti JMS ini. Setidaknya hal ini bisa menunjukkan eksistensi kami sebagai pengendara BMX yang mengharapkan adanya regenerasi langsung. Selain bisa berinteraksi langsung dengan penonton di areal JMS, kami juga bisa memperlihatkan banyaknya manfaat yang bisa kita dapat dari bersepeda khususnya BMX. Karena BMX mempunyai banyak kelebihan yang membuat penggunanya lebih bangga dengan itu semua,” ungkap salah seorang dedengkot sepeda BMX yang tidak menyebutkan namanya.

Bukan hanya melakukan atraksi-atraksi ekstrim di areal tersebut, para BMX-ers juga melakukan coaching clinic untuk mengundang partisipasi aktif dari pengunjung yang datang diacara tersebut. “Ini merupakan bentuk kepedulian kami untuk meningkatkan pengetahuan seputar sepeda BMX dan teknik mengendara kepada masyarakat umum. Karena melakukan atraksi-atraksi ekstrim seperti ini tidaklah semudah melakukan atraksi dengan sepatu roda,” imbuh Ivan Nurma salah satu anggota Street Freestyle yang juga tampil memukau di JMS ini.

JMS kali ini para pengendara BMX, hanya menampilkan dua jenis atraksi yaitu Flatland Freestyle dan Street Freestyle. Sementara untuk Racing dan Dirtjump, mereka memerlukan trek khusus untuk itu. Karena trek yang disediakan disini tidak cukup luas untuk mewadahi para BMX-ers tersebut.

Rio P X-4
Sumber: http://migasnet09arsy8090.blogspot.com/2010/01/sepeda-bmx.html

Komunitas Sepeda Onthel di Bogor

Bersantai dengan Sepeda Onthel


Belakangan, sepeda onthel menjadi buruan masyarakat. Bukan hanya sekadar untuk dikoleksi, namun juga dikendarai untuk berkeliling kota. Hobi tersebut bisa dinikmati sendirian juga bersama-sama dengan komunitas sepeda onthel yang banyak bertebaran.

Komunitas para penggemar sepeda onthel atau yang sering disebut onthelis berdiri karena adanya kesamaan minat. Banyak sepeda tua milik onthelis yang masih perlu "dibangun" atas dasar semangat untuk kembali ke bentuk orisinal awal. Situasi keterbatasan referensi dan keterbatasan ketersediaan onderdil membuat para onthelis kemudian secara alami saling berinteraksi untuk bertukar informasi dan bertukar onderdil.

Sepeda onthel terbilang cukup merakyat. Meskipun harga sepeda onthel semakin hari semakin membumbung tinggi, namun animo masyarakat terlihat justru semakin membesar. Barangkali hal tersebut disebabkan karena sepeda onthel adalah kendaraan yang sederhana. Harganya terjangkau, mudah dikendarai, mudah disimpan dan tidak memerlukan surat kepemilikan. Sepeda ini juga tidak memerlukan iuii.ni bakar, dengan biaya perawatan murah dan mampu menyehatkan tubuh. Tak hanya komunitas sepeda motor dan mobil saja yang bisa melakukan touring. Komunitas sepeda onthel pun bisa melaksanakannya dengan gaya yang tak kalah dengan komunitas lainnya. Para anggota komunitas sepeda onthel sanggup mengendarai sepeda tempo dulu itu dalam jarak tempuh yang cukup jauh. Tentu ini merupakan suatu prestasi yang cukup menakjubkan.

Menurut salah satu satu peserta onthel yang tergabung di komunitas onthel se-Tange-rang, Muhammad Iskandar,mereka pernah menjelajahi Anyer menggunakan sepeda onthel. Ada beberapa komunitas onthel Tangerang yang turut berpartisipasi mengikuti touring, yakni Kontji, Oe-boed, COC, Oncom, Kota, Wolu Bonang, Mpot-mpotan. Masing-masing komunitas diperkirakan mengirim lima orang delegasi. Dengan menggunakan pakaian bebas, mereka pun siap mengayuh onthel dari Tangerang sampai Anyer. Meski memakan waktu cukup lama, onthelis se-Ta-ngerang sangat antusias mengikuti touring.

Touring dengan sepeda onthel sungguh mengasyikkan. Apalagi, mereka juga tergabung lewat jejaring sosial fa-cebook komunitas. Touring ke Anyer merupakan acara lanjutan onthelis Tangerang lantaran mereka sebelumnya telah melakukan touring ke Bogor. Saat itu, peserta touring ke Bogor mencapai 68 orang. Para peserta pun, mengayuh onthel dari Tangerang ke Bogor dengan penuh semangat.

Di Bogor, onthelis Tangerang tak lupa bersilaturahmi ke Onthel Community (Oncom) Bogor. Dalam perjalanan ke Anyer, onthelis Tangerang juga bersilaturahmi ke komunitas onthel Serang dan Cilegon.

Rekreasi

Iskandar sendiri sudah melakukan persiapan sekitar 80 persen. Ia mengaku, belum pernah touring ke Anyer.

"Saya belum pernah sampai ke Anyer, baru sampai ditengah-tengah saja. Namun, beberapa teman sudah ada yang pernah ke sana. Untuk itu perlu persiapan yang matang, seperti kondisi yang prima, bekal air minum dan kondisi sepeda yang baik. Lewat touring kita juga bisa senang-senang," kata dia.

Iskandar pun, tak mau melewatkan kesempatan touring kali ini. Bagi ketua onthel Oe-boed ini, touring bisa menjalin silaturahmi antarsesama onthelis. Dengan touring pula, ia dan teman-teman bisa menambah pengalaman dan teman baru. Tak ketinggalan, touring bisa menjadi sarana rekreasi.

Saat touring, Iskandar menggunakan kaos dengan bawahan celana selutut. Ia juga menambah aksesori topi sebagai pelindung kepala.

"Hal itu penting demi sebuah kenyamanan. Kalau nyaman kita pun menggowes-nya santai dan menikmati pemandangan. Yang pasti kami safety dalam menggowes onthel," ujar dia.

Sepeda onthel sebelumnya lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan dibanding di perkotaan. Namun, pada akhirnya karena usia dan kelangkaan, sepeda onthel telah berubah menjadi barang antik dan unik.

Kini, situasi mulai terbalik. Sepeda onthel yang dulunya terbuang, sejak tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah wolak-wali-king zaman.

Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming. Bisa jadi ketika, BBM semakin mahal dan polusi udara semakin tidak terkendali, komunitas sepeda onthel akan menjadi salah satu garda terdepan untuk mensosialisasikan kembali pentingnya naik sepeda. [SP/Hendro Situmorang]

Rinaldy M X-4

Sumber:http://bataviase.co.id/node/515361

Komunitas Sepeda Fixie di Makasar

Komunitas Sepeda Fixie Makassar












Komunitas Sepeda Fixie Makassar ---

Kota Makassar lambat laun mulai dikenal sebagai kota sepeda. Fenomena ini tidak lepas dari menjamurnya masyarakat yang akrab bersepeda di berbagai lintasan jalan-jalan kota. Seiring dengan itu, berbagai komunitas sepeda bermunculan satu per satu dalam lima tahun terakhir. Salah satunya adalah komunitas sepeda Fixie bernama Mafia Riders (Makassar Fixed Gear Activity). Komunitas ini mempunyai anggota sedikitnya limapuluh orang aktif, yang setiap pekan bisa dilihat ngumpul di depan Bank Indonesia Jalan Jenderal Sudirman.


Menurut salah seorang anggotanya, Ryan Hidayat, komunitas ini telah ada sejak 29 September tahun 2010 lalu. “komunitas ini sebenarnya komunitas yang memiliki sepeda city bike dengan ciri khas tanpa rem," ucapnya. Jika diamati dari dekat, sepeda ini memang tampak berbeda dengan sepeda kebanyakan. Perbedaan mencolok terlihat pada jenis stang, dan veleg yang berwarna-warni. Sepeda ini dirancang tanpa gear yang dinamis, dan hanya mengandalkan kekuatan pedal. Jika pedal didorong ke belakang akan tetap melaju ke belakang sehingga pengereman hanya bergantung pada kekuatan pedal. "Nah, uniknya disini. Sepeda ini sederhana, tanpa rem. Selain itu Stang (kemudi) juga lebih ramping. Kalau menyalip kendaraan bisa lebih mudah," jelasnya. Tapi, bukan itu yang membuat Ryan tertarik untuk bergabung dalam komunitas ini. Ryan mengaku, sulit mencari onderdil di Makassar. Apalagi untuk jenis sepeda Fixie, sangat jarang toko sepeda yang menjual suku cadang sepeda ini.

"Enaknya itu berburu suku cadang. Sangat jarang ada toko sepeda yang menjual satu set sepeda Fixie. Makanya mereknya itu berbeda-beda, dari veleg, stang hingga kerangka jarang yang satu jenis merek," katanya. Berawal dari situs-situs jejaring sosial, Ryan pun akhirnya diajak bergabung dalam komunitas ini. Saban Rabu malam, Jumat malam dan Minggu pagi mereka 'kopi darat' di depan Bank Indonesia di Jalan Jenderal Sudirman.

"Kami ngumpul setiap Rabu, Jumat dan Minggu pagi," katanya. Ryan mengaku, saat ini anggota komunitas sepeda Fixie mencapai lima puluh orang dari berbagai kalangan. "Saya sendiri dari mahasiswa, ada yang dari kalangan swasta dan pegawai negeri sipil. Pokoknya tua muda ikut gabung," kata Ryan, yang masih mahasiswa semester akhir di Sekolah Tinggi Ekonomi, STIEM Bongaya.

Abadi Gunawan mahasiswa Universitas Hasanuddin, yang juga anggota komunitas sepeda ini mengaku tertarik bergabung karena alasan informasi. Setiap kali Abadi mendapatkan informasi suku cadang terbaru berasal dari komunitas. "Saya bergabung sejak setahun lalu. Saya butuh informasi. Sebab peralatan sepeda ini dijualnya terpisah-pisah. Kita juga mesannya terpisah, dari veleg, stang, ban hingga rantai dipesan dari luar makassar via pos," katanya.

Harganya terjangkau, tapi pencarian yang sulit. Namun, jika duit di kantong belum memadai, ada saja anggota komunitas yang banting harga. "Saya pernah dapat kerangka dan stang yang bagus dengan harga murah dari teman komunitas," katanya. Harganya, kata Abadi bervariasi dari Rp 500 Ribu hingga jutaan rupiah. "Untuk satu veleg saja bisa sampai Rp 3 Juta, stang Rp 200 Ribu, dan kerangka ini yang paling mahal, ada yang mencapai Rp sepuluh Juta," jelasnya.

Acara 'kopi darat' tidak hanya dijadikan sebagai ajang berbagi informasi. Tapi juga berbagi keterampilan di antara para anggota komunitas. "Kalau sudah ada yang bisa mengendarai sepeda ini berjalan mundur, berarti sudah bisa dikatakan hebat," kata Abadi. Adalagi Akbar Nugraha, siswa SMA Al Azhar ini Jakarta memilih bergabung dalam komunitas karena faktor keamanan dan lingkungan. Sejak duduk di kelas dua, Akbar memilih bersepeda di lingkungan tempat tinggal dan berkeliling kota bersama komunitasnya.

Sepeda Fixie berkelir putih miliknya, dikendarai selepas pulang sekolah. Pada hari tertentu, remaja berusia 17 tahun ini, berkumpul bersama komunitas sepeda fixed. Selama bergabung di komunitas fixed Makassar, anak tunggal ini, mengaku mendapatkan banyak manfaat positif. "Ya, pokoknya bukan hanya gaya-gayaan. Tapi lebih kepada pertemanan dan menambah keterampilan bersepeda Fixie," ungkapnya.

Anggaran sebanyak Rp 11 juta dihabiskannya untuk utak-atik sepeda yang identik dengan corak warna warni ini. Dikalangan komunitas, lelaki ceking ini dikenal sebagai fast rider yang senang memacu sepeda dalam kecepatan tinggi. "Ini butuh keterampilan. Sebab, kita memacu sepeda tanpa mengandalkan rem yang biasa kita gunakan. Tapi mengandalkan kekuatan untuk menahan pedal," katanya. (Icchankamin)

Bayu Indra X-4
sumber:http://daengrompa.blogspot.com/2011/03/komunitas-sepeda-fixie-makassar.html